• MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 BIMA
  • Bersama membangun generasi berilmu, berakhlak, dan berdaya saing

AKSARA MBOJO DI PERSIMPANGAN LEMBUT SEKALIGUS GENTING

Oleh: Balqis Alkaromah
MAN 2 Bima

Di atas lembar putih tua, ujung pena itu bergerak perlahan, menorehkan guratan-guratan tua yang nyaris asing di mata generasi muda saat ini, seolah membangunkan gema masa silam yang lama terpendam. Aksara Mbojo hadir sebagai jejak peradaban yang menyimpan nadi sejarah, serta penutur nilai dan jatidiri Dou Mbojo. Namun arus modernisasi yang kian berderap tanpa jeda, membuat warisan itu tersisih, padam, dan dilupakan, seiring pudarnya keterikatan generasi muda Dou Mbojo dengan akar budaya Dana Mbojo.

Menurut keterangan ahli yang saya kutip dari buku “Aksara Bima: Peradaban Lokal yang Sempat Hilang” disebutkan, pada masa Sangaji Manggampo Jawa, catatan tentang Bima pernah dituliskan di atas daun lontar menggunakan aksara Mbojo. Jejak aksara itu bahkan disebut dapat ditemukan dalam buku “The History of Java” karya Thomas Stamford Raffles. Namun perlahan aksara itu tak lagi digunakan. Dalam buku itu pula disebutkan dugaan, sebagaimana disinyalir Henri Chambert-Loir, bahwa naskah-naskah Bima lama musnah terbakar, menyisakan sedikit jejak yang bertahan hingga kini.

Pemahaman Generasi Muda terhadap Aksara Mbojo

Kegelisahan akan pudarnya aksara Mbojo bertumpu pada fakta bahwa penggunaan dan pengenalan aksara Mbojo kian terbenam, sebagaimana data menunjukan banyak dari generasi muda di Kabupaten Bima sudah mulai asing terhadap penggunaan aksara Mbojo.

Berdasarkan 128 responden yang mengisi survei yang saya bagikan, 41,4% mengaku tidak pernah menemukan penggunaan aksara Mbojo dalam kehidupan sehari-hari, pada data yang lain menunjukkan 46,9% responden tidak bisa membaca aksara Mbojo dan 43% responden tidak bisa menulis aksara Mbojo. Angka itu bukan sekedar hitungan, di balik angka itu tersimpan ironi yang menyentuh; sebuah goresan budaya yang lahir dari tanah sendiri justru mulai asing bagi anak-anak bangsanya.

Membaca adalah upaya menyusuri jejak warisan, rendahnya kemampuan membaca memunculkan persoalan keberlanjutan pewarisannya. Kegelisahan ini menjadi lebih nyata ketika saya berbicara tentang menulis. Sebab menulis adalah cara menjaga warisan itu agar tetap hidup. Namun justru di titik ini keterputusan paling terasa. Tidak banyak yang mampu menuliskan kembali aksara Mbojo, seolah pengetahuan tentangnya berhenti hanya pada sekedar tahu, tanpa tumbuh menjadi kemampuan.

Ketertarikan Generasi Muda Dou Mbojo

Meskipun penggunaannya kian jarang ditemui dalam keseharian, kesadaran terhadap pentingnya aksara Mbojo justru masih sangat kuat. 57,8 persen responden memandang aksara ini sebagai bagian penting dari identitas budaya Bima. Hal ini merupakan isyarat yang memberi harapan, masih tersisa tanda yang diam-diam bertahan, tumbuh di hati generasi muda Dou Mbojo.

Data menunjukan bahwa 55,5% responden tertarik bahkan 18% responden sangat tertarik mempelajari aksara Mbojo. Angka itu seakan mematahkan anggapan bahwa generasi muda Dou Mbojo sepenuhnya berpaling dari warisan budaya Nggahi Mbojo. Persoalannya mungkin bukan terletak pada ketiadaan minat, melainkan ruang belajar yang belum cukup membuka jalan. Minat itu seperti berdiri di tempat yang tidak punya jalan, orang-orang ingin tahu, ingin belajar, bahkan ingin melestarikan, tapi tidak benar-benar menemukan pintu yang terbuka.

Di tengah keputusasaan yang perlahan tumbuh, harapan rupanya datang dari ruang yang tak diduga. Responden melihat media sosial dapat menjadi jalan baru untuk memperkenalkan kembali aksara ini kepada generasi muda Dou Mbojo.

 

Sosial media menjadi salah satu media yang dipilih oleh responden, warisan yang nyaris menjauh lebih mudah dipelajari. Jika dahulu aksara diwariskan lewat manuskrip dan tutur, kini dapat bernapas melalui layar-layar kecil di genggaman. Kadang yang menyelamatkan tradisi bukan semata cara lama, melainkan kemampuannya berjumpa dengan zaman.

Upaya-Upaya Pelestarian Aksara Mbojo

Kesadaran tentang pentingnya pelestarian itu juga tercermin dari tingginya minat pelajar jika aksara Mbojo dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan.

Data menunjukan bahwa 50,8% responden mengaku setuju jika aksara Mbojo ini dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, data ini menghadirkan secercah harapan bagi generasi muda, mereka hanya membutuhkan ruang untuk dipertemukan kembali dengan akar budayanya. Jika selama ini pewarisan terasa renggang, sekolah barangkali dapat menjadi simpul yang merapatkannya kembali.

Pada 21 April 2026 saya mewawancarai Bapak Munawar M.Pd., Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Bima. Dirinya menyampaikan bahwa sudah ada upaya dari pemerintah daerah untuk memasukkan aksara Mbojo dalam mata pelajaran muatan lokal di sekolah.

“Jadi perkembangan sekarang alhamdulillah. Sejak adanya pelatihan yang dilakukan oleh Balai Bahasa ya. Nah (pelatihan) itu diadakan setiap tahun itu pelatihan guru. Bahkan ada pelatihan guru praktek baik belajar menulis aksaranya. Nanti (ada) festivalnya ada namanya FTBI atau Festival Tunas Bahasa Ibu yang akan diikuti oleh semua.” terangnya.

Kemudian beliau menegaskan bahwa implementasi aksara Mbojo dalam kurikulum pendidikan telah dikuatkan melalui peraturan daerah seperti Peraturan Walikota Kota Bima Nomor 50 Tahun 2019 dan Peraturan Daerah Provinsi NTB Nomor 5 Tahun 2020 tentang Pembinaan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Daerah, yang menjadi payung hukum utama untuk pengajaran bahasa Mbojo di sekolah-sekolah di wilayah Bima dan Dompu.

“Jadi kalau di kota ini sudah (ada). Di Kabupaten Bima kayaknya sudah (ada) juga. Bahkan gubernur sudah (ada). Yang jelas sudah ada.” ungkapnya.

Menurut Pak Munawar, keberadaan aksara menjadi penanda tingginya peradaban suatu daerah. “Harus diingat bahwa setiap daerah yang memiliki aksara itu menunjukkan bahwa daerah itu peradabannya tinggi. Itu rumusnya.” Dirinya sangat berharap bahwa generasi muda Dana Mbojo dapat mengenal dan menguasai aksara Mbojo, agar Bima dapat bersaing dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia seperti Yogyakarta, Makassar, Bandung, Aceh, Bali dan Lombok.

Siang itu, di dalam ruangannya, hasil scan lembaran-lembaran naskah tua terbuka di hadapan Pak Munawar. Jemarinya bergeser memperlihatkan potongan naskah lama bertuliskan aksara Mbojo lalu membacanya. Bagi Pak Munawar, aksara Mbojo bukan hanya sekadar sistem tulisan, melainkan jejak dari peradaban yang pernah tumbuh di Dana Mbojo.

(Kutipan naskah aksara Mbojo dalam buku “Aksara Bima: Peradaban Lokal yang Sempat Hilang”. Dok: Pribadi)

(Kutipan naskah aksara Mbojo dalam buku “Aksara Bima: Peradaban Lokal yang Sempat Hilang”.
Dok: Pribadi)

Di tempat lain, saya menemui Bapak Husni Mubarak, S.Ag., M.Ag., Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Bima. Beliau menegaskan bahwa langkah paling dasar adalah dengan memasukan aksara Mbojo ke dalam kurikulum. “Upaya pelestarian itu harus dari yang paling dasar, termasuk melalui muatan lokal di sekolah (madrasah). Harus ada pelajaran khusus agar aksara ini bisa diformalkan,” usul Pak Husni.

(Proses wawancara bersama pak husni di dalam kantor kementerian Agama.
Dok: Pribadi)

Berdasarkan pandangan dari kedua narasumber ini, menegaskan bahwa aksara Mbojo tak hanya dapat dipahami sebagai peninggalan tulisan lama, juga merupakan jejak tradisi intelektual yang pernah tumbuh di Dana Mbojo, serta penanda bahwa Dou Mbojo memiliki sejarah literasi dan kebudayaan yang berakar. Sehingga pelestarian aksara Mbojo menjadi lebih dari sekadar upaya menjaga peninggalan Nggahi Mbojo, melainkan ikhtiar merawat nilai-nilai yang membentuk karakter generasi muda Dou Mbojo.

Eksistensi aksara Mbojo tidak benar-benar hilang, namun juga tidak sepenuhnya hadir dalam ruang publik maupun pendidikan formal, hanya terdiam di ruang sunyi dokumen lama, prasasti, atau ruang belajar yang terbatas. Penggunaan aksara Mbojo perlahan memang sudah terganti menjadi aksara Latin yang dianggap lebih praktis dalam berbagai aspek kehidupan. Lalu yang menjadi pertanyaan bukan hanya soal “ada” atau “tidak ada”, melainkan sejauh mana diberi tempat untuk bernapas di tengah kehidupan yang terus berubah.

Sebab tanpa ruang yang cukup untuk digunakan, dikenali dan diwariskan secara nyata, sebuah aksara mudah berubah dari bahasa yang hidup menjadi sekedar simbol yang diam. Pada akhirnya, aksara Mbojo berada di persimpangan lembut sekaligus genting; antara harus terus dirawat agar tak redup dalam ingatan generasi, atau perlahan meredup menjadi bayangan yang hanya sesekali disapa ketika orang berbicara tentang masa lalu.

 

Artikel ini mendapat penghargaan sebagai juara 3 lomba jurnalistik pada Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Bima.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Dwibahasa dan Derap Drumband Warnai Upacara Bendera MAN 2 Bima

Bima 21 September 2026, pelaksanaa upacara MAN 2 Bima terdengar berbeda dari biasanya. Aba-aba yang selama ini hanya berbahasa Indonesia, kali ini bersahutan dengan bahasa Arab, semen

21/09/2026 09:32 - Oleh admin man2bima.sch.id - Dilihat 162 kali
Semangat Demokrasi Muda: MAN 2 Bima Pilih Pemimpin OSIM Baru

Bima 19 September 2026, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bima kembali menggelar agenda tahunan yang dinantikan seluruh warga madrasah, yaitu Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Organisasi S

19/09/2026 09:58 - Oleh admin man2bima.sch.id - Dilihat 123 kali
Imtaq Pagi MAN 2 Bima: Kelas XII D Pakai Dua Bahasa, Arab dan Indonesia

Bima 18 September 2026, Kegiatan Imtaq (Iman dan Taqwa) pagi hari ini di madrasah tampil dengan warna berbeda dari biasanya. Bertindak sebagai pelaksana adalah siswa-siswi kelas

18/09/2026 08:43 - Oleh admin man2bima.sch.id - Dilihat 207 kali
Upacara Bendera Istimewa: Awal Kepemimpinan Baru, Awal Inovasi Berbahasa di MAN 2 Bima

Bima 14 September 2026, Pelaksanaan upacara bendera hari Senin di MAN 2 Bima kali ini tampil dengan wajah yang berbeda dari biasanya. Ada beberapa momen istimewa yang membuat upacara

14/09/2026 08:36 - Oleh admin man2bima.sch.id - Dilihat 351 kali
Empat Siswa MAN 2 Bima Lolos OMI Tingkat Kabupaten, Kepala Madrasah Apresiasi Perjuangan Seluruh Peserta

Bima - Sebanyak 18 siswa MAN 2 Bima mengikuti Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat Kabupaten Bima yang dilaksanakan di MAN 1 Bima, Desa Rasabou, Kecamatan B

13/09/2026 21:11 - Oleh admin man2bima.sch.id - Dilihat 211 kali
MAN 2 Bima Gelar Ramah Tamah Perpisahan, Estafet Kepemimpinan dari Bapak Nasruddin, S.Ag. ke Bapak Juraidin, S.Pd.I., M.Pd.

Bima, 10 September 2026, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bima menggelar acara ramah tamah dalam rangka pelepasan dan perpisahan Kepala Madrasah periode sebelumnya, Bapak Nasruddin, S.A

10/09/2026 15:46 - Oleh admin man2bima.sch.id - Dilihat 236 kali
Guru BK dan Wali Kelas Razia Kosmetik Siswi, Kepala MAN 2 Bima Tegaskan Fokus Utama Siswa adalah Belajar

Guru Bimbingan dan Konseling (BK) bersama para wali kelas MAN 2 Bima melakukan pemeriksaan terhadap kosmetik yang dibawa oleh siswi di ruang kelas, Rabu (9/9/2026). Pemeriksaan dilak

09/09/2026 11:38 - Oleh admin man2bima.sch.id - Dilihat 205 kali
Estafet Kepemimpinan: MAN 2 Bima Gelar Ramah Tamah Perkenalan Kepala Madrasah Baru

Bima, 08 September 2026, Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bima pada Selasa pagi, saat civitas madrasah menggelar kegiatan ramah ta

09/09/2026 09:02 - Oleh admin man2bima.sch.id - Dilihat 218 kali
OMI Tingkat Kabupaten Bima Resmi Dibuka di MAN 1 Bima

Bima, 7 September 2026 — Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat Kabupaten Bima resmi dibuka di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bima, Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Kabupaten B

07/09/2026 09:54 - Oleh admin man2bima.sch.id - Dilihat 280 kali
MAN 2 Bima Terjunkan 18 Siswa Terbaik di Olimpiade Madrasah Indonesia 2026

Bima 07 September 2026, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bima kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong prestasi akademik siswa dengan mengirimkan 19 siswa terbaiknya untuk b

07/09/2026 09:26 - Oleh admin man2bima.sch.id - Dilihat 273 kali